Bukan Operasi Penangkapan Biasa: Strategi Perang AS Berbasis Pusat Gravitasi
Selasa, 06-01-2026 - 21:51:13 WIB
Marsda TNI Budhi Achmadi, Asisten Strategi Panglima TNI.
Baca juga:
   
 

 


Upaya Amerika Serikat untuk menekan dan melumpuhkan rezim Venezuela, termasuk berbagai operasi hukum, intelijen, dan dugaan rencana penangkapan Presiden Nicolas Maduro, memperlihatkan bagaimana perang modern dijalankan saat ini. Meski tidak selalu berbentuk invasi militer terbuka, strategi yang digunakan menunjukkan pola klasik: menargetkan pusat gravitasi (center of gravity/CoG) kekuatan lawan.


Kasus Venezuela menegaskan bahwa dalam konflik kontemporer, perang tidak selalu dimulai dengan tembakan, melainkan dengan tekanan terkoordinasi terhadap simpul kekuasaan paling menentukan dalam sebuah negara yakni kepemimpinan nasional.


*Venezuela dan Logika Pusat Gravitasi*


Sejak beberapa tahun terakhir, AS secara terbuka menetapkan Presiden Maduro sebagai aktor kriminal internasional, memberlakukan sanksi ekonomi ekstrem, mengisolasi Venezuela secara diplomatik, serta mendukung oposisi politik. Langkah-langkah ini tidak berdiri sendiri. Semuanya mengarah pada satu tujuan strategis: melemahkan dan, jika mungkin, menghilangkan kepemimpinan nasional sebagai penopang utama rezim kiri Venezuela yang telah berkuasa 27 tahun. Hugo Chavez berkuasa selama 1999-2013, dilanjutkan Nicolas Maduro 2013-2026.


Dalam perspektif center of gravity, kepemimpinan nasional merupakan sumber legitimasi, kendali politik, dan loyalitas institusi terutama militer. Jika kepemimpinan ini runtuh, maka sistem negara diharapkan ikut goyah tanpa harus melalui perang konvensional berskala besar. Inilah mengapa figur presiden menjadi sasaran utama, bukan sekadar kebijakan atau kekuatan militer di lapangan.


*Strategi Lama, Bukan Temuan Baru*


Meski tampak modern, strategi perang berbasis pusat gravitasi sesungguhnya bukan hal baru. Konsep ini pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Carl von Clausewitz pada awal abad ke-19. Dalam On War, Clausewitz menyebut bahwa setiap musuh memiliki “pusat kekuatan dan gerak” yang jika dihantam, akan melumpuhkan keseluruhan kemampuan perlawanan.


Pada abad ke-20, konsep ini berkembang pesat, terutama dalam doktrin militer Amerika Serikat. Kolonel John Warden III memperkenalkan Five Rings Model yang membagi sistem negara menjadi lima lapisan: kepemimpinan, sistem vital, infrastruktur, populasi, dan kekuatan militer. Menurut Warden, kepemimpinan berada di lapisan terdalam dan merupakan pusat gravitasi paling menentukan.
Pola ini terlihat jelas dalam Perang Teluk 1991, operasi NATO di Yugoslavia (1999), invasi Irak (2003), hingga berbagai operasi decapitation strike dalam perang melawan teror. Dalam setiap konflik tersebut, kepemimpinan nasional dan militer menjadi sasaran utama—baik melalui serangan militer, tekanan ekonomi, maupun perang informasi. AS bahkan pernah melakukan beberapa kali operasi militer berbasis CoG kepemimpinan nasional, yaitu saat memburu Presiden Panama, Manuel Noriega (1989); Presiden Irak, Saddam Hussein (2003); Presiden Libya, Muammar Gaddafi (2011); Presiden Guatemala, Alfonso Portillo (2013); Presiden Honduras, Juan Orlando Hernandes (2022); dan sekarang Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.


*Bagaimana Merumuskan CoG*


Menentukan pusat gravitasi bukanlah pekerjaan sederhana. Ia menuntut pemahaman menyeluruh terhadap sistem negara lawan: bagaimana kekuasaan dijalankan, apa sumber legitimasi politik, siapa aktor kunci, dan sejauh mana kohesi elite terjaga.


Dalam perencanaan strategis modern, CoG dirumuskan melalui identifikasi critical capabilities (kemampuan utama), critical requirements (syarat pendukung), dan critical vulnerabilities (kerentanan utama). Dalam banyak kasus, kepemimpinan nasional dan kepemimpinan militer memang berada pada CoG terdalam nomor satu karena merekalah yang mengendalikan keputusan strategis dan loyalitas kekuatan negara.


Berikutnya, menyerang CoG terdalam juga berisiko tinggi. Kesalahan identifikasi dapat memperkuat perlawanan dan solidaritas nasional lawan. Oleh karena itu, perumusan dan pemilihan CoG melibatkan  pimpinan nasional tertinggi. Strategi ini juga hampir selalu dikombinasikan dengan tekanan multidomain: ekonomi, diplomasi, siber, dan informasi.


*Implikasi Strategis bagi Indonesia*


Bagi Indonesia, fenomena ini mengandung pelajaran penting. Di tengah persaingan kekuatan besar dan dinamika geopolitik Indo-Pasifik, ancaman terhadap kedaulatan tidak selalu datang dalam bentuk agresi militer. Justru yang lebih berbahaya adalah perang hibrida yang menargetkan pusat gravitasi nasional.
Dalam konteks Indonesia, pusat gravitasi tidak hanya terletak pada kekuatan militer, tetapi juga pada legitimasi kepemimpinan nasional, persatuan elite, stabilitas politik, serta kepercayaan publik. Polarisasi politik, disinformasi, tekanan ekonomi eksternal, dan fragmentasi elite berpotensi dimanfaatkan pihak luar untuk melemahkan CoG Indonesia tanpa satu pun peluru ditembakkan.
Oleh karena itu, kesiapan kemampuan Indonesia untuk menghadapi agresi asing ke depan harus bersifat menyeluruh. 


Beberapa rekomendasi kebijakan sebagai berikut:


Pertama, memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, termasuk para elite dan lembaga pemerintah untuk terus membangun postur BKRI yang kokoh dan berdaya tangkal di panggung global.


Kedua, memperkuat legitimasi kepemimpinan nasional melalui tata kelola pemerintahan yang semakin baik dan  mendapatkan dukungan nyata dari seluruh komponen masyarakat dan bangsa.


Ketiga, meningkatkan ketahanan informasi dan literasi strategis elite serta masyarakat terhadap maraknya perang kognitif dan operasi pengaruh asing terhadap konstruksi kebangsaan NKRI.


Keempat, mengembangkan doktrin pertahanan yang memandang perang sebagai spektrum multidomain, bukan semata konflik bersenjata.


Kelima, membangun kemampuan industri pertahanan lokal agar mandiri dalam memenuhi kebutuhan Alpalhankam TNI.


Keenam, memperkuat sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta agar mampu menangkal infiltrasi asing melalui operasi multi dimensi.


Pada akhirnya, kasus Venezuela menunjukkan bahwa strategi perang berbasis pusat gravitasi tetap relevan di abad ke-21. Amerika Serikat dan kekuatan besar lainnya terus mengadaptasi pemikiran Clausewitz dalam bentuk perang modern yang semakin kompleks dan sering kali tidak kasat mata. Bagi Indonesia, memahami strategi ini adalah landasan awal untuk memastikan bahwa pusat gravitasi nasional kita tetap kokoh dan tidak runtuh pada saat menghadapi serangan dari dalam dan dari luar.


Oleh: Marsda TNI Budhi Achmadi,
Asisten Strategi Panglima TNI


 




 
Berita Lainnya :
  • LPP Atlantara Sambangi Kejari Makassar, Dorong Sinergi Pengawasan Dunia Pendidikan
  • Gagalkan Pengiriman 15 Kg Sabu Lintas Provinsi, Kapolresta Deli Serdang Apresiasi Kinerja Satresnarkoba
  • H. Ulung Purnama, SH., MH. Ucapkan Selamat atas Pelantikan 154 Kepala Desa se-Kabupaten Bekasi
  • Panglima TNI Resmikan Markas Baru Koopssus TNI
  • Tak Kenal Lelah, TNI dan Warga Kompak Kejar Target Pengecoran Jalan TMMD di Desa Wates
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
    + Indeks Berita +
    01 LPP Atlantara Sambangi Kejari Makassar, Dorong Sinergi Pengawasan Dunia Pendidikan
    02 Gagalkan Pengiriman 15 Kg Sabu Lintas Provinsi, Kapolresta Deli Serdang Apresiasi Kinerja Satresnarkoba
    03 H. Ulung Purnama, SH., MH. Ucapkan Selamat atas Pelantikan 154 Kepala Desa se-Kabupaten Bekasi
    04 Panglima TNI Resmikan Markas Baru Koopssus TNI
    05 Tak Kenal Lelah, TNI dan Warga Kompak Kejar Target Pengecoran Jalan TMMD di Desa Wates
    06 Gempur Sarang Narkoba, Polresta Deli Serdang Tetapkan 57 Tersangka, Sita 23 Kg Sabu dan 24 Kg Ganja
    07 Patroli Malam Cipta Kondisi, Babinsa Ajak Masyarakat Peduli Keamanan Lingkungan
    08 Kaster TNI Pimpin Sertijab Wakaster, Mayjen TNI Achiruddin Gantikan Mayjen TNI Suhardi
    09 Sekda Meranti Resmi Buka Peluncuran Inovasi Pelita ASN dan Ikan Patin
    10 Kemendagri Perkuat Integrasi Perlindungan Anak dalam Perencanaan Pembangunan Daerah
    11 Babinsa Kemlayan Pererat Silaturahmi dengan Warga Melalui Komsos
    12 Kapolri Mutasi Kapolres Sukoharjo dan Nonaktifkan Tiga Personel Terkait Penggeledahan Ponpes HQ
    13 Perkuat Koordinasi Peradilan Militer, Kaotmilti I Medan Kunjungi Pangdam II/Sriwijaya
    14 56 Siswa TK Pertiwi Slogohimo Kunjungi Koramil 22, Kenali Tugas TNI Sejak Dini
    15 Tinjau RSUD Kondosapata, Gibran Tekankan Kesiapan Dokter dan Alat Kesehatan
    16 Polres Tebing Tinggi Tingkatkan Kesiapsiagaan Personel Melalui Latihan Dalmas
    17 Bupati Asmar Tinjau Progres Tanjung Samak–Tanjung Kedabu Sepanjang 1,4 Kilometer
    18 Workshop Pengelolaan Sampah, Pemda Belajar Menyeimbangkan Biaya dan Kemampuan Warga
    19 Satgas TMMD Kodim 0724/Boyolali Gelar Donor Darah dan Sosialisasi Kesehatan
    20 Soroti Dugaan Kekerasan terhadap Mahasiswa, PMII Minta Pengawasan Internal PDAM Palopo Diperiksa
    21 Babinsa Peleman Perkuat Kedekatan dengan Peternak Kambing di Desa
    22 Tiga Wajah Kejahatan Digital Terkuak, Polres Tebing Tinggi Bongkar Judol dan Revenge Porn
     
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © zoinnews.com